Search This Blog

Home

My photo
Naturalist
Naturalist adalah lembaga semi otonom (LSO) dari CSSMoRA UIN Sunan Ampel Surabaya yang mempublikasi berita terkini dan karya-karya anggotanya
View my complete profile

Recent in Technology

Terjebak dalam Kesadaran Palsu


Penulis: Dewi Malihatun Nasihatul Hulail

Kesadaran palsu telah menjadi sebuah lingkaran atau boundaries bagi tiap individu di masa kini, tak ayal ketika manusia dihadapkan atau ditempatkan pada lingkungan atau kondisi tertentu yang mengharuskan mereka untuk meniru atau memenuhi banyak hal yang alih-alih dibutuhkan tetapi malah dianggap sebagai suatu keharusan yang dipaksakan tanpa melihat hakikat asli dari kebutuhan sejati. Seiring melajunya perkembangan zaman yang melewati berbagai perubahan secara signifikan, tentu memperlihatkan akan perbedaan budaya akan gaya hidup di zaman dahulu dengan masa kini, seperti tersebarnya informasi dan akses yang sangat mudah didapatkan, menjadikan manusia saat ini mengetahui banyak sekali opsi pilihan hidup yang akan mereka jalani, pun dengan keberagaman individu dan gaya hidup lingkungan yang ada di sekitar mereka. Dari beberapa faktor tersebut maka banyak sekali kita temukan fenomena kesadaran palsu yang jarang sekali kita sadari di lingkungan kita diantaranya:

Konsumtif

Kebiasaan konsumtif tinggi masyarakat, khususnya di Indonesia yang menjadi salah satu konsumen terbesar di dunia. Kebiasaan atau budaya yang secara tidak sadar kita lestarikan dalam kehidupan sehari-hari ini terjadi hampir pada seluruh lapisan masyarakat, baik kalangan atas yang mana mereka selalu menjadikan kepemilikan akan suatu benda atau kuasa sebagai sebuah identitas yang menggambarkan diri mereka, bahkan dianggap sebagai pendukung dari tingkat harga diri mereka agar tetap pada posisi yang diinginkan. Kaum elit yang sering mengadakan perjamuan atau pertemuan antar perusahaan, keluarga, dan bisnis pun bersaing untuk sebisa mungkin menunjukkan kepemilikan harta benda dan kekuasaan pada khalayak umum, mereka juga memiliki indikator penilaian untuk mngukur seberapa tinggi dan bagaimana nilai atau kualitas seorang pribadi atau kelompok di kaum elit tersebut untuk selanjutnya mereka gunakan sebagai alat pemuas kepentingan pribadi atau golongan.

Sikap dan Perilaku

Beberapa individu bersikap atau berperilaku tidak sesuai dengan apa yang menggambarkan dirinya karena takut atau terlalu memperhatikan penilaian orang lain atas diri kita. Tak dapat dipungkiri bahwa perilaku tersebut juga dibutuhkan ketika kita berada pada konteks profesionalitas kerja yang memang megharuskn kita untuk berperilaku atau bersikap sesuai dengan standar dan syarat yang diberlakukan di tempat kerja. Akan tetapi beda halnya dengan ketika bersosialisasi dengan keluarga atau teman yang lebih menekankan pada perasaan emosional antara individu satu dengan yang lain. Perilaku yang menggambarkan diri kita sesungguhnya, dan perasaan tulus akan tindakan yang kita perbuat akan tersampaikan pada orang lain tanpa perlu kita menjelaskannya. Nyatanya saat ini, banyak sekali masyarakat khususnya kaum muda yang masih dalam perjalanan mencari jati dirinya, terkesan selalu menjadikan kondisi lingkungannya menjadi pengkontrol atau remot yang mengendalikan bagaimana mereka harus bersikap, bukan bagaimana cara kita bersikap dalam suatu kondisi lingkungan yang kita hadapi.

FOMO (Fear of Missing Out)

Istilah ini mulai marak dibahas akhir-akhir ini, dari namanya yang berarti ketakutan akan sebuah ketertinggalan juga menjadi salah satu fenomena akan kesadaran palsu yang kita alami selama ini, dengan melihat sesuatu yang baru dari orang lain dan mengimplikasikan arti lebih unggul, lebih menyenangkan, lebih keren dalam posisi kita yang berada dibawah atau jauh dari mereka membuat kita mengusahakan segala cara tanpa kita sadari untuk mengejar ketertinggalan yangkita anggap sebuah hal positif yang harus kita rasakan dan alami seperti halnya yang orang lain rasakan di luar sana, tak sedikit orang dapat membedakan kehidupan dirnya berbeda dengan orang lain, berbeda disini bukan dalam konteks kebahagiaan dan yang lainnya, akan tetapi bagaimana orang medapatkan kebahagiaan sejati dari diri mereka sendiri tentu berbeda dengan cara yang dilakukan orang lain.


Post a Comment

0 Comments