Search This Blog

Home

My photo
Naturalist
Naturalist adalah lembaga semi otonom (LSO) dari CSSMoRA UIN Sunan Ampel Surabaya yang mempublikasi berita terkini dan karya-karya anggotanya
View my complete profile

Recent in Technology

Manusia Pohon

Oleh: Melia Dyah Ayu Rika Sari

Waktu terus berjalan tak henti-hentinya, seiring dengan kebahagiaan dan juga kesedihan yang bertumpah lara bersama luka dan kecewa manusia di luaran sana. Daun-daun mulai berguguran diterpa angin yang menjadi penyambut petang kala hujan akan segera datang. Hari demi hari mulai melangkah mengantarkan sepasang kekasih pada tawa-tawa bahagia atas kelahiran putri tunggal mereka. Kebahagiaan dan anugrah kecil pertama, yang mereka panggil sebagai Lea.

Lea,,,

Gadis kecil bernama sederhana itu adalah aku. Dan kisah ini akan bercerita tentang kebahagiaan serta suka-cita sebuah keluarga kecil yang pernah ada.

(10 Maret 2007)

Aku adalah seorang gadis kecil yang memiliki rasa segudang keingintahuan seperti lumrahnya anak-anak di luaran sana, yang suka meracau kala siang atau malam tiba. Aku masih ingat betul, kala umur ku beranjak 6 tahun aku sangat suka sekali menggambar lalu menceritakan gambar ku kepada ayah dan juga ibu. Saat itu aku berada di teras rumah dan seperti biasanya dengan peralatan lengkap menggambar ku, dengan penuh rasa bahagia aku mulai menggoreskan lingkaran dan menggambar apa-apa saja yang terlintas di dalam benak ku. Kala itu aku menggambarkan potret ku bersama ayah dan ibu yang tengah duduk bersama dalam sebuah meja dengan tertawa dan saling melempar canda. Namun saat gambar ku hampir akan selesai, tiba-tiba saja terdengar pecahan gelas dan teriakan suara ibu. Aku bergegas berlari menuju sumber suara itu yang ternyata berada di balik pintu kamar kedua orang tua ku, aku berusaha masuk dan memanggil-manggil ibu dengan suara ku yang gemetar dan setengah ketakutan, namun pintu itu tetap saja masih terkunci rapat dengan menyisakan suara tangis ibu yang memecah kesunyian malam.

Tak berselang lama kemudian, ayah ku keluar dari kamar itu dengan wajahnya yang memerah. Setelah memastikan ayah melenggang pergi dan meninggalkan rumah, aku segera masuk ke dalam kamar ibu dan mencarinya, namun aku tak menemukannya, lalu aku mengecek setiap sudut ruangan dan kamar mandi yang berada satu ruangan dengan kamar ibu, dan akhirnya aku menemukan ibu tergelak lemah di sudut dinding kamar mandi yang dingin dengan rambutnya yang lusuh, pipi memar dan suara tangisnya yang mulai terdengar melemah dan sesenggukan. Aku memeluk ibu dengan segenap kekuatan dan menenangkannya, tergambar ketakutan di wajah mungilnya. Sejenak ingatan mimpi kecil ku tentang sebuah keluarga bahagia terasa lenyap begitu saja ditelan ombak penuh luka yang tak pernah di kira sebelumnya, dunia ku mulai terasa hancur, hampa, kehilangan arah dan tak berdaya.

Malam itu malam yang sangat panjang, dada ku terasa begitu sesak, dan ingin mengutuk semua hal yang tengah berbahagia. Tak terasa mata ku mulai terpejam, sesak ku mulai padam dalam pangkuan ibu, dan aku berharap hal semalam adalah mimpi buruk yang menjadikan ku  akan terbangun dalam keadaan yang baik-baik saja, tanpa ada luka-luka yang tersisa. Sayangnya, ini nyata semuanya yang terjadi adalah kenyataan. Malam telah berganti pagi, tangisan-tangisan yang sempat terdengar semalam kini sudah tak terdengar lagi. Senyuman ibu masih saja sama cantiknya seperti pagi-pagi sebelumnya, ibu tetap menyiapkan makanan enak di meja makan, dan merapikan rumah seperti biasanya. Namun, suasana canggung antara ibu dan ayah masih sangat begitu terasa. Dan kecangguan itu terus berlanjut hingga 15 tahun kemudian.

(Lima belas tahun kemudian )

Kukuruyukkkk....!! (Suara ayam)

Waktu terus berjalan, pagi petang, kemarau hujan masih terus berjalan bergantian. Pagi mulai tiba, jendela-jendela mulai terbuka dan matahari bersinar mulai menyapa. Saatnya aku memulai rutinitas hari ku dengan pekerjaan dan deadline yang cukup membuat ku merasa  jenuh berada jauh di perantauan. Lea yang sekarang berbeda dengan lea di 15 tahun yang lalu. Aku kini hidup sendirian di perantauan, memutuskan untuk keluar dari rasa sesak yang mengungkung ku dalam ketakutan selama bertahun-tahun. Sementara itu, ayah dan ibu sudah berpisah, ayah kini telah memiliki keluarga baru yang baginya cukup membuatnya berhak merasa untuk lebih berbahagia sedang ibu masih berada di desa, hidup sendiri sembari menunggu putrinya yang hanya pulang sesekali.

Pada suatu hari tepatnya hari raya idul fitri, aku belum bisa pulang ke desa untuk bertemu ibu, karena banyaknya deadline pekerjaan yang menuntut untuk segera diselesaikan. Di sela-sela waktu senggang, aku menelepon ibu untuk bercerita panjang lebar tentang segala kekesalan ku terhadap atasan di kantor dan pada penutup percakapan, aku tak henti-hentinya mengucap segala maaf kepada ibu karena belum dapat menemaninya di idul fitri yang kesekian kalinya. Setelah menutup telfon, perasaan ku campur aduk dan dada ku di penuhi dengan rasa penuh penyesalan. Kemudian tiba-tiba saja suara telepon genggam ku kembali berdering, memecah kesunyian kantor. Aku terjaga dan mengangkat telepon itu.

"Hallo, assalamualaikum mohon maaf ini dengan siapa?". ( Aku mengangkat telepon sembari berfikir siapa kiranya nomor tak dikenal ini yang menelepon ku malam-malam)

"Wa'alaikum salam ". (Jawab sang penelepon,) begitu mendengar suaranya aku tercengang dan jantung ku terasa begitu ingin pecah, suara perempuan yang sempat ku kenal. Ya , dia adalah suara istri baru ayah ku.

"Ada apa bu?". Tanya ku singkat

"Ayah mu masuk ke UGD, kamu bisa segera datang?".

Aku terdiam sesaat ketika mendengar kabar itu,  dan tanpa berfikir panjang mengiyakan ucapannya untuk segera datang dan menemui ayah.

"Tak ku kira, akan seperti ini. Bukan, bukan seperti ini seharusnya !! '' ( kata ku dalam hati sembari menangis sesenggukan).

Pada hari yang sama, aku segera mengabari ibu , dan kami memutuskan untuk mendatangi ayah pada keesokan harinya. Setelah menjemput ibu di desa, aku segera memacu kendaraan ku menuju rumah ayah yang jaraknya kurang lebih 10 jam dari rumah ibu.Tak pernah ku kira, aku akan mendatangi ayah berdua seperti ini dengan ibu, dengan keadaan secanggung dan seasing ini rasanya. Tak terasa 10 Jam perjalanan telah berlalu, sesampainya di depan kamar inap ayah, aku sempat terdiam dan menangis sesenggukan. Hingga pada akhirnya ibu menuntun ku untuk melenggang menghampiri ayah yang tengah berbaring lemah dengan berbagai mesin rumah sakit yang berada di kanan kirinya. Suara mesin monitor jantung di sebelah kiri ayah terus berbunyi seiring jantung ayah yang semakin melemah. Aku menggengam tangan ayah dan mengusap air matanya, terlihat ayah begitu kesakitan dan tak berdaya.

Semenjak hari itu, semesta terasa 360 derajat berbeda begitu saja. Kutukan dan kebencian yang ku jahit rapi atas nama ayah mulai ku urai satu persatu dengan sembari menghapus luka dan mimpi buruk yang pernah ada. Sumpah, aku tidak ingin merasakan waktu dengan dimensi yang melingkupi seperti hari itu lagi, hari dimana mata tak dapat mengatup meski lelah, bibir gemetar, dan telinga terus berdengung berjalan beriringan dengan suara mesin jantung UGD yang terus berbunyi setiap waktunya. Tuhan,, semesta ku tidak begitu luas dan terpisah, dunia ku cukup kecil untuk membantu ku bergerak selama ini, selama yang ku bisa.Tuhan,, janganlah terlalu cepat merenggut hal-hal kecil itu, hal-hal kecil yang cukup membuat ku belajar tentang indah dan ketenangan dunia. Dari impian masa kecil yang masih belum bisa ku wujudkan bersama dengan ayah dan ibu untuk tetap dan terus bersama selamanya menjadikan ku belajar, meski yang ku terima adalah luka yang membuat sejuta trauma yang tersisa namun aku adalah manusia pohon, yang tumbuh dan di ajarkan berbagai hitam putih, dan pahit manis dunia. Yang terkadang kering, gugur dan terkadang rimbun yang batangnya cukup kuat untuk menjadi sandaran bagi mereka yang berlindung dibawahnya.

 

“Cintailah mereka yang berharga selama masih ada, jangan terlalu cepat membenci dan menghakimi,  jagalah mereka meski sakit yang kau dapatkan. Karena hal-hal berharga begitu rapuh untuk pergi dan hilang begitu saja.”

Post a Comment

0 Comments